5 Legenda Mistis Malam Suro Yang Bikin Merinding 

Malam Suro Yang Bikin Merinding

Suro Alip pertama tahun 1955 jatuh pada Selasa 10 Agustus 2021. Pelaksanaan Malam Suro jatuh pada hari pertama Muharram 1443 Hijriah, Tahun Baru Islam. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka berdua berjalan pada saat yang sama, tetapi sejatinya mereka tidaklah sama. 

Sejarah Perayaan

Suro ditetapkan sebagai bulan pertama dalam penanggalan Jawa-Islam oleh Sultan Agung, Raja Mataram. Malam Suro adalah kata yang berasal dari Arab ‘asyura’, yang merupakan padanan bahasa Jawa untuk bulan Muharram.

Makna Suro Bagi Orang Jawa yaitu bahwa Malam suro adalah hari keramat atau malam sakral bagi masyarakat Jawa, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta dan Solo, apalagi jika jatuh pada hari Jumat Legi. Orang Jawa dilarang meninggalkan atau meninggalkan rumah pada malam suro ini, menurut tradisi tradisional Jawa, kecuali untuk berdoa atau melakukan bentuk ibadah lainnya di rumah.

Bahkan, praktik memperingati hari ini didasarkan pada sistem kalender tahun turun-temurun agama Hindu (kepercayaan Hindu). Dan penanggalan Jawa dimulai sekitar masa Sultan Agung, sekitar tahun 1613-1645.

Karena tradisi leluhur yang telah turun temurun di kalangan orang Jawa, penyebaran Islam di kalangan mereka sangat sulit pada saat itu. Sultan Agung yang telah masuk Islam ingin menyebarkan agamanya kepada rakyatnya.

Sultan Agung akhirnya berinisiatif untuk memperluas ajaran Islam dengan menggabungkan tradisi Jawa dengan ajaran Islam sebagai akibat dari masalah ini. Perlahan-lahan, masyarakat Jawa mulai tertarik dengan ajaran Islam.

Tahun Baru Jawa ditetapkan pada 1 Muharram sebagai hasil perpaduan budaya Jawa dan Islam (suro dan Islam). Dan, hingga kini, masyarakat Jawa, terutama yang berasal dari Yogyakarta dan Solo, secara tradisional merayakannya setiap tahun.

Salah satu pesta malam suro biasanya diadakan oleh masyarakat Jawa dengan parade kelompok, mirip dengan karnaval, seperti yang ditampilkan di TV.

Perayaan Suro di Yogyakarta

Malam Satu Suro Yogyakarta dalam menyambut malam suro biasanya ritual budaya lampah (Topo Bisu Mubeng Beteng) dilakukan di Keraton Yogyakarta dan selalu dirayakan setiap tahun. Dalam hal ini, masyarakat dianjurkan untuk melakukan introspeksi. Mereka telah berbuat baik atau telah berbuat buruk dalam satu tahun terakhir.

Tradisi Malam Suro di Solo 

Hal yang sama dilakukan saat malam ini tiba di Solo. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan tempat satu-satunya tradisi suro yang sering dipentaskan di Solo. Masyarakat Solo akan selalu mengadakan ritual ritual Karnaval Kebo Bule keturunan Kyai Slamet, setiap malam muncul suro. Ritual ini dilakukan untuk memohon berkah dan perlindungan, serta pengampunan atas segala perbuatan buruk yang dilakukan di tahun sebelumnya. 

Karnaval Kebo Bule juga dijadwalkan bertepatan dengan Tahun Baru Islam, menurut penanggalan Jawa. Solo mewakili kepercayaan masyarakat Jawa. Adiluhung diwakili oleh Karnaval Kebo Bule.  Acara ritual Kebo Bule ini diiringi dengan restu dari Sang Pencipta bagi warga Solo. Beberapa orang di Solo beranggapan bahwa dengan melakukan ritual ini mereka akan mendapatkan berkah dan perlindungan di tahun-tahun mendatang.

Legenda Mistis Tentang Malam Suro 

  1. Orang-orang menjadi percaya bahwa lebih baik tidak meninggalkan rumah selama malam Suro karena akan membawa nasib buruk bagi mereka. Lebih baik tinggal di rumah dan berdoa kepada Tuhan.
  2. Anda tidak dapat meninggalkan rumah. Hal ini dikarenakan ada konsep bahwa melakukan sesuatu di hari Suro tiba merupakan ide buruk yang akan membawa Anda kesialan.
  3. Festival makhluk gaib masih dipraktikkan sampai sekarang, meskipun kelihatannya aneh. Banyak orang mengira bahwa hari ini adalah hari raya Idul Fitri bagi makhluk dunia lain. Malam itu, kekuatan imajiner akan bebas berkeliaran.
  4. Meskipun tidak ada dasar ilmiah atau logis untuk konsep ini, dinyatakan bahwa hari ini diidentikan sebagai titik pertemuan tradisi agama untuk kembali ke rumah.
  5. Terakhir, ada legenda mengerikan tentang hantu para korban yang sedang menikmati liburan mereka. Menurut agama Jawa kuno, arwah para korban pesugihan akan dibebaskan dan dilepaskan sebagai imbalan atas kerja mereka selama satu tahun.

Originally posted 2021-08-10 13:13:54.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.